Etika Mengirim Standing Flower ke Rumah Duka agar Tetap Sopan dan Berkesan
Mengirim standing flower ke rumah duka adalah salah satu cara paling umum untuk menyampaikan rasa belasungkawa dan dukungan kepada keluarga yang sedang berduka. Kehadiran rangkaian bunga bukan sekadar simbol keindahan, tetapi juga wujud empati, kepedulian, dan penghormatan terakhir kepada almarhum maupun keluarga yang ditinggalkan.
Namun, tidak semua orang memahami bahwa ada etika tertentu dalam mengirim standing flower ke rumah duka. Mulai dari pilihan jenis bunga, warna, ucapan, hingga waktu pengiriman, semuanya perlu diperhatikan agar niat baik benar-benar tersampaikan dengan sopan dan berkesan. Artikel ini akan membahas panduan lengkap etika mengirim standing flower agar tidak salah langkah, sekaligus tetap bermakna bagi penerima.
Makna Standing Flower dalam Tradisi Belasungkawa
Standing flower biasanya berbentuk rangkaian bunga vertikal yang diletakkan di dekat peti jenazah, ruang duka, atau area penerimaan tamu. Bentuknya yang tegak melambangkan penghormatan, keteguhan, dan doa yang tulus bagi almarhum. Dalam banyak budaya, standing flower juga menjadi simbol kehadiran dan dukungan moral bagi keluarga yang ditinggalkan.
Berbeda dengan buket atau bunga meja yang bersifat lebih personal, standing flower cenderung bersifat formal dan representatif. Oleh karena itu, rangkaian ini sering digunakan oleh rekan kerja, institusi, komunitas, atau kerabat jauh yang ingin menyampaikan belasungkawa secara resmi namun tetap hangat.
Memahami makna ini membantu kita memilih rangkaian bunga yang tepat, baik dari segi ukuran, warna, maupun pesan yang disampaikan, sehingga kehadirannya benar-benar sesuai dengan suasana duka.